Pada tanggal 20-22 September 2003 yang lalu, bertempat di Wisma SVD, Leduk, KaIL berkesempatan untuk memfasilitasi Pelatihan Pembentukan Kepribadian (Personality Development) bagi siswa/I SMUK Hendrikus, Surabaya. Pelatihan ini merupakan gelombang kedua dari serial pelatihan kerjasama antara SMUK Hendrikus dengan KaIL di Surabaya.
SMUK Hendrikus merupakan salah satu lembaga pendidikan formal di Surabaya, yang meletakkan perhatian khusus pada persoalan-persoalan pembentukan kepribadian bagi siswa/inya. Hal ini dikarenakan siswa/I setingkat SMU adalah merupakan masa-masa perkembangan seorang anak menuju alam kedewasaannya.
Berangkat dari pemahaman akan kondisi perkembangan tersebut, KaIL merancang pelatihan ini untuk memberikan pembekalan khususnya pembekalan secara mental bagi para remaja agar dapat memiliki ketangguhan mentalitas dalam menghadapi pengalaman-pengalaman baru yang tentunya akan mereka jumpai dalam perjalanan menuju kedewasaannya.
Dalam pelatihan ini diharapkan juga para partisipan dapat memiliki konsep ataupun cara berpikir yang tidak reaktif melainkan responsif. Artinya, dalam mengambil pilihan-pilihan baik pilihan untuk bersekolah, untuk berkarir, ataupun pilihan dalam pola pergaulan, partisipan diharapkan memiliki keberanian untuk mengambil pilihan-pilihan tersebut, bukan didasarkan pada reaksi keinginan-keinginan yang berasal dari luar dirinya, yakni lingkungan sekolah, keluarga, melainkan dari kebutuhan-kebutuhan pribadi.
Proses pelatihan ini dibuka dengan tawaran akan aturan main yang perlu diberlakukan dalam keseluruhan proses pelatihan ini. Namun proses ini mengalami kemacetan, karena partisipan merasa tidak perlu diadakannya aturan main. Setelah melewati diskusi yang cukup panjang, akhirnya muncullah kesepakatan baru dalam proses pelatihan ini, yang memberikan kebebasan bagi para partisipan untuk berperilaku sejauh tidak mengganggu proses pelatihan. Dalam proses ini yang menarik adalah partisipan mampu mengevaluasi diri sendiri mengenai alasan para Guru di sekolah selama ini selalu menerapkan pola otoriter dalam proses belajar mengajar.
Hari kedua, partisipan diajak untuk terlibat dalam permainan-permainan yang penuh tantangan. Permainan yang memang khusus dirancang bagi anak-anak seusia SMU, yang memiliki kebutuhan untuk selalu mencoba hal-hal yang baru. Sore hingga malam hari proses pelatihan dilanjutkan dengan mengkritisi semua aktivitas yang teah dilakukannya dalam satu hari ini. Cukup menarik dalam hari kedua ini, aturan main yang pada hari pertama ditolak untuk dijalankan, namun di hari kedua ini secara sadar partisipan dapat tetap menjaga aturan main tersebut untuk tetap berlaku selama proses pelatihan ini.
Proses di hari ketiga ditutup dengan sebuah rencana tindak lanjut. Rencana tindak lanjut ini adalah seluruh partisipan melakukan pemetaan akan kebutuhan aktivitas yang mereka inginkan dalam lingkup sekolah. Dari 4 kegiatan yang tercetus, akhirnya diprioritaskan menjadi 2 kebutuhan besar yang dirasa paling diinginkan oleh partisipan. Kemudian partisipan dibagi menjadi 2 kelompok besar untuk mendetailkan program-program tersebut dalam kurun waktu 3 bulan ke depan. (Patty)
No comments:
Post a Comment