Sebagai pendamping lapang, pemberi pelatihan atau praktisi pendidikan, kita seringkali menghadapi permasalahan; antara lain kesulitan dalam menyampaikan pesan-pesan tertentu agar mudah dimengerti dan tidak membosankan, bagaimana agar peserta dapat menemukan sendiri pengetahuan-pengetahuan yang ingin disampaikan, bagaimana meningkatkan partisipasi peserta secara merata, bagaimana menjelaskan hal-hal yang kompleks sehingga mudah dipahami, bagaimana mengatasi kebosanan peserta, serta bagaimana mengatasi hambatan komunikasi antar peserta dan antara peserta dengan pendamping. Permainan adalah salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan sebagai jembatan permasalahan di atas.
Karena itulah KAIL (organisasi nirlaba yang salah satu misinya membangun sistem pendukung bagi para aktivis) menyelenggarakan Pelatihan Penggunaan Permainan sebagai Media Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat untuk pertama kalinya pada tanggal 13-15 Agustus 2004 yang lalu. Pelatihan tersebut dihadiri oleh 32 orang dari berbagai kalangan, mulai dari guru sekolah menengah, dosen, aktivis LSM, aktivis mahasiswa dan aktivis sekolah menengah. Peserta berasal dari Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Jawa Tengah, Jogyakarta dan Jawa Timur. Keberagaman peserta ini justru semakin memperkaya proses belajar di antara mereka semua.
Pelatihan ini dibuat dengan tujuan untuk: (1) memberikan pengetahuan mengenai manfaat, batasan penggunaan permainan untuk pendidikan dan pemberdayaan masyarakat; (2) memberikan ketrampilan teknis dalam menggunakan permainan untuk pendidikan dan pemberdayaan masyarakat melalui pengalaman membawakan permainan; (3) memberikan ketrampilan teknis dalam merancang permainan dan kesempatan untuk mengujicobakan permainan yang dirancangnya; dan (4) membangun jaringan antar pengguna permainan untuk pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Acara dimulai dengan sharing pengalaman peserta dalam menggunakan permainan. Selanjutnya akan dibahas materi-materi seputar Permainan sebagai Media Pendidikan dan Pembelajaran. Materi-materi yang akan didiskusikan antara lain adalah tujuan penggunaan permainan, manfaat-manfaat dan batasan-batasan penggunaan permainan, serta peran fasilitator/trainer. Setelah itu para peserta akan mendalami Teknik-teknik Membawakan Permainan. Para peserta akan diajak untuk berlatih dan mempraktekkan secara langsung membawakan permainan, mulai dari briefing hingga penarikan refleksi. Peserta juga diajak mengenal berbagai jenis permainan, mulai dari permainan untuk hiburan, untuk menjelaskan konsep, dan untuk dinamika kelompok. Setelah praktek, mereka akan dipandu untuk menggali tips-tips yang diperlukan untuk keberhasilan penggunaan permainan sebagai media pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Selain membawakan permainan yang sudah ada, para peserta juga diberi kesempatan untuk merancang sebuah aktivitas dengan menggunakan permainan secara berkelompok dan mengujicobanya dalam kelompok pleno. Setelah praktek, para peserta akan dipandu untuk menggali tips-tips yang diperlukan untuk menggunakan permainan secara efektif. Pelatihan ditutup dengan merangkum pelajaran-pelajaran apa saja yang diperoleh selama pelatihan. Mereka juga diberi kesempatan untuk mendiskusikan hal-hal menarik yang belum sempat dibahas atau hal-hal lain yang belum jelas.
Pelatihan serupa untuk angkatan ke-2 akan diadakan kembali pada tanggal 8-10 Oktober 2004 di Bandung. Bagi mereka yang berminat atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silakan menghubungi Any Sulistyowati (anyapd@gmail.com).
No comments:
Post a Comment