Pada tanggal 4-8 Maret, KaIL mendapat kesempatan memfasilitasi pelatihan menggunakan Metode Berpikir Sistem untuk menganalisis permasalahan yang diadakan di Kota Blitar. Pelatihan ini diselenggarakan oleh SITAS DESA, satu LSM di Kota Blitar yang bergelut di bidang advokasi masalah agraria dan cukup rutin mengadakan kegiatan untuk peningkatan kapasitas para aktivis lokal dan juga memiliki kepedulian terhadap masalah pendidikan terutama bagi masyarakat kecil yang berada di daerah yang dilanda konflik pertanahan.
Hingga saat ini memang masih banyak desa dan wilayah di sekitar Blitar yang masih mengalami konflik terkait kepemilikan tanah yang malah makin merugikan masyarakat kecil dan membuat mereka makin terkucil dari perkembangan pembangunan negeri ini.
Kepedulian akan beragam permasalahan inilah salah satunya yang menggerakkan SITAS DESA untuk terjun langsung mendampingi masyarakat pedesaan yang mengalami konflik pertanahan dan mengadakan berbagai kegiatan untuk membantu meningkatkan kemampuan dan wawasan bagi masyarakat kecil di daerah konflik tersebut, juga agar masyarakat itu bisa memperjuangkan hak-haknya tanahnya yang telah dirampas ketika pergantian Orde Lama ke Orde Baru. Salah satunya dengan mengadakan pelatihan rutin yang diikuti oleh wakil masyarakat daerah konflik dan juga diikuti para aktivis lokal Blitar dan sekitarnya, seperti halnya pelatihan yang difasilitasi oleh KaIL ini.
Pelatihan ini diikuti oleh beberapa pendamping masyarakat, aktivis organisasi masyarakat dan juga beberapa aktivis mahasiswa yang ada di Kota Blitar dan sekitarnya. Harapannya melalui pelatihan ini akan ada metode baru yang dapat digunakan untuk membantu menganalisis hingga mampu membantu memecahkan berbagai permasalahan sosial yang terjadi di daerah tersebut. Selain itu diharapkan juga akan muncul kader-kader aktivis baru yang punya pemahaman lebih lengkap akan beragam permasalahan yang terjadi seperti konflik seputar kepemilikan lahan. Lewat pelatihan ini juga harapannya dapat memupuk kepedulian yang semakin kuat dari kaum terpelajar hingga mau terjun langsung membantu memecahkan berbagai permasalahan sosial yang terjadi.
Tema utama yang diangkat dalam pelatihan ini adalah tentang konflik pertanahan yang cukup marak terjadi di Kota Blitar dan sekitarnya. Tema ini merupakan salah garapan utama SITAS DESA, di mana harapannya dengan mengangkat isu yang langsung digeluti akan bisa memunculkan ide-ide baru guna lebih mengefektifkan dan mengoptimalkan perjuangan serta menemukan cara-cara baru dalam membantu menyelesaikan peramasalah seputar isu ini. Sementara bagi KaIL, ini adalah pertama kalinya memfasilitasi Pelatihan Cara Berpikir Sistem dengan masalah utama yang dijadikan tema seputar konflik pertanahan.
Pelatihan ini diawali dengan observasi lapangan yang dilakukan seluruh peserta yang dibagi dalam beberapa kelompok dengan cara live in di beberapa desa di sekitar Blitar. Lokasi live in yang dipilih adalah desa-desa yang mengalami konflik seputar hak kepemilikan lahan antara warga dengan pemerintah, yang selama ini hak kepemilikan dan pengelolaanya masih dipegang penguasa melalui berbagai instansi atau perusahaan kaki tangannya.
Para peserta pelatihan disebar di beberapa desa tersebut untuk mencari dan menggali berbagai informasi langsung di lapangan tentang permasalahan yang dialami oleh warga desa. Tentunya permasalahan seputar konfik yang terjadi serta dampaknya bagi kehidupan warga tersebut, misalnya dampaknya terhadap tingkat kesejahteraan dan berbagai akses yang seharusnya mereka dapatkan, seperti pendidikan, kesehatan, informasi dan lain-lain.
Berbagai permasalahan yang dikumpulkan peserta dari live in di lapangan ini menjadi bahan utama yang kemudian diolah dan dituangkan menjadi peta permasalahan yang merupakan bagian awal dan terpenting dari rangakain sesi pelatihan selama empat hari itu. Peta permasalahan yang dibuat peserta merupakan satu alat yang digunakan untuk coba melihat dan memahami kesalingterkaitan antara satu permasalahan dengan permasalahan lainnya yang digali peserta di lapangan. Peserta bukan hanya melihat keterkaitan masalah tersebut tetapi juga memahami pola hubungan sebab akibat yang ada antar berbagai permasalahan tersebut.
Bagi seluruh peserta pelatihan, membuat peta permasalahan merupakan pengalaman baru dan belum pernah dilakukan sebelumnya. Berbagai perasaan terekam dan terungkap saat peserta ditanya tentang perasaan yang dialami saat pembuatan peta ini, mulai dari yang merasa kaget dengan kompleksitas permasalahan yang ada hingga yang penasaran dan tertantang ingin memperluas lebih lanjut peta permasalahan ini.
Ketika membuat peta permasalahan, memang dituntut untuk berpikir runtut dan kronologis terutama saat membuat panah hubungan sebab akibat dari satu masalah dengan masalah lainnya yang berkaitan dalam kompleksitas permasalahan yang ada, apalagi isu yang diangkat merupakan isu sosial yang kompleks. Inilah yang memerlukan cukup ketelitian dan alur berpikir yang logis sehingga wajar saja ketika tak terasa waktu berlalu dengan cepatnya larut dalam asyiknya kerja kelompok membuat peta permasalahan.
Materi penting lainnya yang menjadi rangkaian tak terpisahkan dari keseluruhan pelatihan seperti, paradigma, masalah sistemik dan mekanistik serta penanganannya, teori sistem, hingga menentukan leverage point atau masalah yang paling kuat pengaruhnya dalam peta permasalahan semakin membantu peserta melihat persoalan yang dihadapi secara utuh dan holistik untuk kemudian diintervensi dan dikelola.
Intervensi terhadap permasalahan yang dominan, untuk menuju kondisi yang diinginkan merupakan titik awal yang penting dalam mempengaruhi peta permasalahan secara keseluruhan dan merupakan langkah pertama menuju penentuan rencana strategis dan rencana kegiatan yang akan dilakukan untuk memberikan dampak sesuai yang diharapkan pada permasalahan sesungguhnya yang dihadapi.
Metode Berpikir Sistem melalui pemetaan masalah ini harapannya akan menjadi salah satu rutinitas yang selalu dilakukan ketika memetakan berbagai kompleksitas persoalan yang digeluti para aktivis peserta pelatihan dalam dunia yang digelutinya, misalnya dalam memetakan berbagai permasalahan akibat konflik pertanahan yang berlarut-larut yang masih banyak terdapat di daerah Blitar dan sekitarnya.
Peserta pelatihan yang rata-rata merupakan kaum muda ini terlihat antusias mengikuti rangkaian sesi demi sesi hingga akhir pelatihan. Apalagi adanya selingan permainan, baik yang memang terkait materi pelatihan atau hanya sekedar memeriahkan suasana dan pembangkit semangat selalu hadir di beberapa sesi pelatihan. Seorang peserta yang berasal dari salah satu pesantren di Blitar bahkan mengatakan akan mencoba beberapa permainan di pemondokannya untuk para adik-adik kelas yang dibimbingnya.
Pelatihan ini tentunya belum bisa memberi pengaruh besar atas berbagai permasalahan sosial yang terjadi dan digeluti kawan-kawan aktivis di daerah Blitar. Tetapi awal kerjasama antara SITAS DESA dengan KaIL ini, harapannya menjadi titik terang perubahan kondisi sosial ke arah yang lebih adil bagi masyarakat kecil yang tertindas terutama di daerah ini. Seperti halnya semangat Kota Blitar yang melahirkan satu tokoh besar Indonesia yang merupakan sosok pembela wong cilik yang berperan besar dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa yang tertindas oleh penjajahan dan ketidak adilan, dialah Bung Karno.
No comments:
Post a Comment